Sedekah adalah amalan mulia yang dijanjikan Allah dengan balasan berlipat ganda. Ia bukan hanya membuka pintu pahala di akhirat, tetapi juga menjadi sebab datangnya keberkahan hidup di dunia. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa harta yang disedekahkan tidak akan berkurang, bahkan justru bertambah dengan cara yang tidak kita duga.
Artikel ini akan membahas tentang keutamaan sedekah, dalilnya dalam Al-Qur’an dan hadits, serta menyajikan kisah inspiratif dari seorang ulama besar, Abdullah bin Mubarak, yang membatalkan hajinya demi bersedekah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini menegaskan bahwa sedekah ibarat benih yang ditanam. Dari satu benih kecil, Allah bisa melipatgandakannya menjadi ratusan bahkan ribuan kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.”
(HR. Tirmidzi)
Ini menunjukkan bahwa sedekah tidak terbatas pada harta. Memberi senyum, membantu orang lain, bahkan doa tulus untuk saudara Muslim juga termasuk sedekah.
Nama Abdullah bin Mubarak rahimahullah tentu tidak asing di kalangan ulama. Beliau dikenal sebagai seorang ahli hadits, mujahid, dan juga dermawan.
Suatu hari, Abdullah bin Mubarak telah menyiapkan biaya besar untuk melaksanakan ibadah haji. Namun, di tengah perjalanan ia melihat seorang wanita miskin yang mengambil bangkai burung dari tempat sampah untuk dimakan bersama anak-anaknya.
Hatinya terenyuh melihat pemandangan itu. Tanpa ragu, ia pun memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan hajinya tahun itu. Seluruh biaya haji yang sudah dipersiapkan, beliau serahkan kepada keluarga miskin tersebut agar mereka bisa makan dan bertahan hidup.
Pada malam harinya, Abdullah bin Mubarak bermimpi. Dalam mimpi itu, ia mendengar suara yang berkata:
“Allah telah menerima hajimu, meskipun engkau tidak berangkat ke Makkah. Sedekahmu kepada keluarga miskin itu lebih besar pahalanya daripada haji sunnahmu.”
(Imam adz-Dzahabi, Siyar A‘lam an-Nubala’ (8/407))
Mengapa Kita Perlu Membiasakan Sedekah?
-
Sedekah adalah cara paling mudah untuk membersihkan harta.
-
Sedekah menenangkan hati dan melapangkan dada.
-
Sedekah menjadi jalan terbukanya pintu rezeki yang tidak disangka-sangka.
-
Sedekah adalah tabungan akhirat yang tak pernah merugi.
Allah Swt. berfirman:
“Apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya; dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.”
(QS. Saba’: 39)
Kisah Abdullah bin Mubarak mengajarkan kita bahwa sedekah bukan sekadar mengeluarkan harta, tapi tentang bagaimana hati kita hadir dalam membantu orang lain. Kadang, satu tindakan kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa lebih bernilai di sisi Allah daripada amalan besar lainnya.
Mari kita jadikan sedekah sebagai kebiasaan sehari-hari, sekecil apapun itu. Karena sesungguhnya, setiap kebaikan yang kita keluarkan akan kembali pada diri kita dengan berlipat ganda.