Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata:
“Kita adalah kaum yang miskin, kita memakan rezeki kita dan kita pun menunggu ajal kita.”
Kalimat singkat ini sarat makna. Ia mengingatkan manusia akan hakikat dirinya yang lemah, miskin, dan bergantung sepenuhnya kepada Allah ﷻ. Tidak ada satu pun dari kita yang bisa hidup tanpa rezeki yang Allah berikan, dan tidak ada seorang pun yang mampu menunda ajalnya walau sesaat.
Hakikat Kemiskinan Manusia
Kemiskinan yang dimaksud bukan semata-mata kekurangan harta, melainkan hakikat bahwa kita tidak memiliki apa pun kecuali apa yang Allah titipkan. Semua yang ada pada diri kita – harta, kesehatan, umur, keluarga, dan kehidupan – hanyalah pinjaman dari Allah ﷻ.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia! Kalianlah yang memerlukan Allah; dan Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Fathir: 15)
Ayat ini menegaskan bahwa semua manusia fakir (miskin) di hadapan Allah. Kita tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.
Rezeki yang Dimakan Akan Habis
Imam Ahmad menyinggung bahwa kita hanya memakan rezeki kita. Rezeki yang sudah Allah tetapkan pasti akan sampai kepada kita, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Sesungguhnya roh kudus (Jibril) telah membisikkan dalam hatiku: bahwa tidak ada satu jiwa pun yang akan mati hingga ia menyempurnakan rezekinya dan ajalnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan perbaikilah cara mencari rezeki. Janganlah keterlambatan rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara maksiat, karena apa yang ada di sisi Allah tidaklah dapat diperoleh kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.”
(HR. Abu Nu‘aim, dishahihkan oleh al-Albani)
Maka, berapa pun banyaknya rezeki yang kita dapatkan, semuanya akan habis kita makan, kita pakai, atau kita tinggalkan. Yang tersisa hanyalah amal shalih yang akan menemani kita di alam kubur.
Menunggu Ajal
Pada akhirnya, setelah menikmati rezeki yang Allah berikan, manusia hanyalah menunggu ajal. Setiap detik yang berjalan sesungguhnya mendekatkan kita pada kematian. Allah ﷻ berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasan kalian. Maka siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia memperoleh kemenangan. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali Imran: 185)
Kesimpulan
Ungkapan Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله adalah tamparan lembut bagi hati kita. Dunia ini hanyalah persinggahan singkat: kita makan dari rezeki yang Allah bagi, kita jalani hidup dengan penuh ujian, lalu kita menunggu ajal yang pasti datang.
Maka, hendaklah kita sadar bahwa:
-
Kita miskin di hadapan Allah ﷻ.
-
Rezeki hanyalah titipan sementara.
-
Ajal adalah kepastian yang tidak bisa ditunda.
Sudah seharusnya kita gunakan hidup ini untuk beribadah kepada Allah, memperbanyak amal shalih, dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.