Dekati Yang Memberi Rezeki: Saatnya Mengejar Ridha Allah, Bukan Pujian Manusia

Admin Amina 09 Jun, 2026 • 04.53 WIB
Dekati Yang Memberi Rezeki: Saatnya Mengejar Ridha Allah, Bukan Pujian Manusia

Di zaman sekarang, mudah sekali merasa bahwa hidup adalah perlombaan: siapa paling sukses, siapa paling banyak dipuji, siapa paling terlihat berhasil. Media sosial sering membuat kita tanpa sadar ingin diakui dan dihargai.

Padahal seorang muslim diajarkan sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar pengakuan manusia: mendekat kepada Allah, Sang Pemberi Rezeki.

Bukan berarti kita tidak boleh bekerja, berusaha, atau memiliki cita-cita. Justru Islam mengajarkan ikhtiar yang maksimal. Namun hati tetap bergantung kepada Allah, bukan kepada penilaian manusia.

Siapa Sebenarnya Yang Memberi Rezeki?

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُلِ اللَّهُ

“Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi? Katakanlah: Allah.”
(QS. Saba’: 24)

Ayat ini mengajarkan bahwa pekerjaan, usaha, relasi, dan peluang hanyalah sebab. Yang benar-benar membuka pintu rezeki adalah Allah.

Karena itu, ketika ingin hidup lapang, jangan hanya memperbaiki strategi hidup — tapi perbaiki juga hubungan dengan Allah.


Zuhud Bukan Berarti Meninggalkan Dunia

Dalam poster tertulis perkataan Al-Imam Al-Auza’i رحمه الله:

“Zuhud terhadap dunia adalah meninggalkan pujian. Engkau mengerjakan suatu amalan yang engkau tidak ingin dipuji oleh manusia.”
(Mushannif Ibnu Abi Syaibah, 7/241)

Banyak orang salah paham tentang zuhud.

Zuhud bukan berarti harus miskin, tidak bekerja, atau menjauhi dunia.

Zuhud adalah ketika hati tidak bergantung kepada dunia dan tidak haus dipuji manusia.

Kita tetap bekerja. Tetap berbisnis. Tetap berkarya. Tapi tujuan akhirnya bukan untuk mendapatkan tepuk tangan.

Karena pujian manusia cepat datang dan cepat hilang.


Bahaya Ketika Amal Hanya Untuk Dilihat Orang

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”

Para sahabat bertanya: “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

“Riya (beramal agar dilihat manusia).”
(HR. Ahmad)

Riya sering datang secara halus.

  • Sedekah tapi berharap dipuji
  • Ibadah tapi ingin dianggap saleh
  • Berbuat baik tapi kecewa saat tidak dihargai

Padahal amal yang paling bernilai sering kali adalah yang hanya diketahui oleh Allah.


Cara Mendekati Sang Pemberi Rezeki

1. Jaga shalat tepat waktu

Allah berfirman:

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu…”
(QS. Thaha: 132)

2. Perbanyak istighfar

Allah berfirman:

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu… niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dan memperbanyak harta serta anak-anakmu.”
(QS. Nuh: 10–12)

3. Perbanyak sedekah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”
(HR. Muslim)

4. Ikhlas dalam amal

Tidak semua kebaikan harus diumumkan. Ada amalan yang justru semakin bernilai ketika hanya Allah yang tahu.


Penutup

Jangan habiskan hidup hanya mengejar rezeki, sampai lupa kepada Yang Memberi Rezeki.

Jangan habiskan tenaga mencari pujian manusia, sampai lupa mencari ridha Allah.

Teruslah bekerja, belajar, dan berusaha. Tapi jaga hati agar tetap bergantung kepada Allah.

Karena ketika hubungan dengan Allah baik, Dia mampu membuka jalan yang tidak pernah kita sangka.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)

#ArtikelIslam #Muhasabah #Rezeki #Ikhlas #Zuhud #KajianIslam #DekatiYangMemberiRezeki

Solidaritas Ummat

Wasilah Jariyah

Dukungan Anda menggerakkan misi dakwah Amina Media.