Ketika Lisan Berkata “Sudah Ikhlas”, Tapi Pikiran Masih Sibuk Berkelana

Admin Amina 13 Jun, 2026 • 04.47 WIB
Ketika Lisan Berkata “Sudah Ikhlas”, Tapi Pikiran Masih Sibuk Berkelana

Oleh: Tim Berbagi dan Peduli

Pernahkah kita berada di fase ketika lisan dengan mudah berkata, “Saya sudah ikhlas. Saya sudah pasrah kepada Allah.” Namun beberapa saat kemudian pikiran kembali sibuk memikirkan masalah yang sama. Hati gelisah, sulit tenang, dan berbagai kemungkinan buruk terus berputar di kepala.

Jika pernah mengalaminya, ketahuilah bahwa kita tidak sendirian. Banyak orang mengalami hal yang sama. Bahkan orang-orang yang rajin beribadah pun terkadang diuji dengan kegelisahan dan overthinking yang berkepanjangan.

Lalu, apakah itu berarti kita belum ikhlas? Bagaimana Islam memandang kondisi tersebut?

Ikhlas Bukan Berarti Tidak Sedih

Banyak orang mengira bahwa ikhlas berarti tidak boleh sedih, tidak boleh kecewa, dan tidak boleh menangis. Padahal anggapan ini kurang tepat.

Ikhlas bukanlah hilangnya perasaan sedih. Ikhlas adalah menerima ketetapan Allah sambil tetap berusaha menjalani hidup sesuai dengan syariat-Nya.

Nabi Ya’qub ‘alaihissalam ketika kehilangan putranya, Nabi Yusuf, bahkan menangis hingga matanya memutih karena sedih. Namun beliau tidak pernah berburuk sangka kepada Allah.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”

(QS. Yusuf: 86)

Ayat ini menunjukkan bahwa kesedihan adalah bagian dari fitrah manusia. Yang menjadi masalah bukanlah sedihnya, melainkan ketika kesedihan membuat seseorang kehilangan kepercayaan kepada Allah.

Mengapa Kita Masih Overthinking?

Sering kali overthinking muncul karena kita ingin mengetahui masa depan yang belum Allah bukakan untuk kita.

Kita ingin tahu:

  • Apakah usaha ini akan berhasil?
  • Apakah rezeki akan datang?
  • Apakah masalah ini akan selesai?
  • Apakah keputusan yang saya ambil sudah benar?

Padahal semua itu termasuk perkara gaib yang hanya Allah ketahui.

Allah berfirman:

“Dan di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia.”

(QS. Al-An’am: 59)

Ketika seseorang terlalu fokus memikirkan sesuatu yang belum terjadi, pikirannya akan dipenuhi ketakutan dan kecemasan yang sebenarnya belum tentu menjadi kenyataan.

Perbedaan Ikhtiar dan Mengkhawatirkan Berlebihan

Islam mengajarkan kita untuk berikhtiar, bukan untuk tenggelam dalam kekhawatiran.

Misalnya seseorang sedang mencari pekerjaan. Ia boleh memperbaiki CV, mengirim lamaran, belajar keterampilan baru, dan memperluas jaringan. Itu adalah ikhtiar.

Namun jika sepanjang hari ia hanya memikirkan kemungkinan gagal, takut ditolak, tidak bisa tidur, dan kehilangan semangat beribadah, maka ia telah masuk ke dalam kekhawatiran yang berlebihan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.”

(HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan keseimbangan yang indah: berusaha semaksimal mungkin, lalu bersandar kepada Allah.

Tawakal Bukan Berarti Pasif

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memahami tawakal sebagai sikap pasrah tanpa usaha.

Padahal Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan tawakal setelah ikhtiar.

Suatu ketika ada seorang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

“Apakah aku lepaskan untaku lalu bertawakal, atau aku ikat terlebih dahulu?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

“Ikatlah terlebih dahulu, kemudian bertawakallah.”

(HR. Tirmidzi)

Artinya, seorang Muslim tidak boleh hanya berkata, “Saya pasrah kepada Allah,” tanpa melakukan usaha yang semestinya.

Tawakal adalah mengerjakan sebab-sebab yang halal, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Tanda-Tanda Kita Belum Sepenuhnya Berserah

Ada beberapa tanda yang perlu kita renungkan:

1. Hati lebih sibuk dengan hasil daripada usaha

Kita terus memikirkan hasil yang belum terjadi, tetapi kurang fokus pada usaha yang bisa dilakukan hari ini.

2. Sulit menerima kenyataan

Ketika takdir tidak sesuai harapan, kita terus bertanya, “Kenapa harus saya?”

3. Merasa semua bergantung pada diri sendiri

Seolah-olah kesuksesan hanya ditentukan oleh kemampuan kita, bukan pertolongan Allah.

4. Doa semakin sedikit

Ketika overthinking menguasai hati, sering kali seseorang justru lebih banyak memikirkan masalah daripada berdoa kepada Allah.

Cara Mengatasi Overthinking Menurut Islam

1. Perbanyak dzikir

Allah berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketika pikiran mulai kacau, biasakan membaca:

  • Subhanallah
  • Alhamdulillah
  • Laa ilaaha illallah
  • Allahu Akbar
  • Hasbunallahu wa ni’mal wakil

Dzikir bukan sekadar ucapan, tetapi sarana menghubungkan hati kepada Allah.

2. Fokus pada hari ini

Sering kali kita lelah bukan karena masalah hari ini, melainkan karena memikirkan masalah esok hari yang belum tentu datang.

Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk hidup dengan penuh kesadaran terhadap waktu yang sedang dijalani.

Kerjakan yang bisa dilakukan hari ini, dan serahkan hari esok kepada Allah.

3. Perbanyak doa

Rasulullah ﷺ sering berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan.”

(HR. Bukhari)

Doa adalah bentuk pengakuan bahwa kita membutuhkan pertolongan Allah dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

4. Yakin bahwa Allah selalu memilih yang terbaik

Allah berfirman:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa keterbatasan manusia sering kali membuat kita salah menilai suatu kejadian.

Apa yang hari ini kita anggap sebagai musibah, bisa jadi kelak menjadi pintu kebaikan yang besar.

Belajar Ikhlas Adalah Proses

Tidak semua orang langsung mampu menerima takdir dengan lapang dada. Ikhlas adalah perjalanan panjang yang membutuhkan latihan, doa, dan kedekatan dengan Allah.

Jika hari ini lisan kita sudah berkata, “Saya ikhlas,” tetapi hati masih berjuang untuk tenang, jangan menyerah.

Teruslah memperbaiki hubungan dengan Allah. Teruslah berdoa. Teruslah belajar bertawakal.

Karena ketenangan sejati bukan berasal dari kepastian masa depan, melainkan dari keyakinan bahwa Allah selalu membersamai hamba-Nya.

Penutup

Ketika pikiran mulai dipenuhi kekhawatiran, ingatlah bahwa tidak semua hal harus kita pahami sekarang. Tidak semua pertanyaan harus segera mendapatkan jawaban.

Tugas kita adalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan penuh harap, lalu bertawakal kepada Allah.

Sebab pada akhirnya, yang paling menenangkan hati bukanlah ketika semua masalah selesai, melainkan ketika kita yakin bahwa Allah sedang mengatur semuanya dengan sebaik-baiknya.

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”

(QS. At-Talaq: 3)

Semoga Allah menjadikan hati kita lebih tenang, lebih ikhlas, dan lebih percaya kepada ketetapan-Nya. Aamiin. 🤲🏻

Solidaritas Ummat

Wasilah Jariyah

Dukungan Anda menggerakkan misi dakwah Amina Media.