Muharram Bukan Bulan Sial: Meluruskan Mitos dan Memahami Kemuliaannya dalam Islam

Admin Amina 19 Jun, 2026 • 08.36 WIB

Masih ada yang merasa cemas saat memasuki bulan Muharram?
Sebagian orang masih menganggap Muharram sebagai bulan yang membawa kesialan, tidak baik untuk memulai usaha, menikah, pindah rumah, atau mengambil keputusan penting.

Padahal, keyakinan seperti ini tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Justru sebaliknya, Muharram adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.

Mari kita luruskan pemahaman ini berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Apa Itu Bulan Muharram?

Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan suci (Asyhurul Hurum).

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram…”
(QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan suci tersebut dijelaskan dalam hadits Nabi ﷺ:

“Setahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya empat bulan haram: tiga bulan berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab…”
(HR. Bukhari no. 4662, Muslim no. 1679)

Disebut bulan haram (suci) karena kedudukannya diagungkan dan seorang muslim dianjurkan lebih menjaga diri dari dosa serta memperbanyak amal kebaikan.

Benarkah Muharram Membawa Sial?

Jawabannya: Tidak.

Dalam Islam tidak ada bulan yang membawa kesialan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada kesialan (thiyarah), tidak ada anggapan sial…”
(HR. Bukhari no. 5757, Muslim no. 2220)

Keyakinan bahwa waktu tertentu membawa sial termasuk bentuk tathayyur (anggapan sial) yang telah dibatalkan dalam Islam.

Semua kejadian terjadi dengan izin Allah dan tidak terkait dengan nama bulan.

Allah berfirman:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.”
(QS. At-Taghabun: 11)

Artinya, keberhasilan dan ujian hidup bukan ditentukan oleh Muharram atau bulan lainnya, tetapi oleh ketetapan Allah dan ikhtiar manusia.

Mengapa Muharram Justru Istimewa?

Muharram bukan bulan untuk ditakuti, tetapi bulan yang menjadi kesempatan memperbanyak amal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.”
(HR. Muslim no. 1163)

Perhatikan bahwa Nabi ﷺ menyebutnya “bulan Allah” (Syahrullah Al-Muharram), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaannya.

Amalan yang Dianjurkan di Bulan Muharram

1. Memperbanyak Puasa Sunnah

Terutama pada hari Asyura (10 Muharram).

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu.”
(HR. Muslim no. 1162)

Lebih baik lagi ditambah puasa tanggal 9 Muharram (Tasu’a).

2. Memperbanyak Amal Saleh

Bulan mulia adalah kesempatan untuk:

  • memperbaiki shalat,
  • membaca Al-Qur’an,
  • bersedekah,
  • menjaga lisan,
  • memperbanyak dzikir dan doa.

3. Menjauhi Maksiat dan Keyakinan yang Tidak Berdasar

Jangan sampai mitos dan tradisi tanpa dalil membuat kita meninggalkan ajaran Islam yang benar.

Allah berfirman:

“…Maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu…”
(QS. At-Taubah: 36)

Para ulama menjelaskan bahwa dosa pada bulan mulia lebih perlu diwaspadai karena kemuliaan waktunya.

Penutup

Muharram bukan bulan sial.
Muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah, bulan untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan memulai langkah yang lebih baik.

Jangan takut memulai kebaikan di bulan Muharram. Yang perlu kita takutkan bukan bulannya, tetapi jika kita melewati bulan mulia ini tanpa amal dan tanpa perubahan.

Semoga Allah menjadikan Muharram sebagai awal hijrah menuju kehidupan yang lebih dekat kepada-Nya. Aamiin.

Tag artikel (SEO):
Muharram, bulan Muharram, hukum menganggap Muharram sial, Asyhurul Hurum, keutamaan Muharram, puasa Asyura, artikel islami, dakwah Islam, tahun baru Hijriah.

Solidaritas Ummat

Wasilah Jariyah

Dukungan Anda menggerakkan misi dakwah Amina Media.