Hidup Rakus di Dunia: Belajar dari Nyamuk
Dalam kehidupan ini, ada sebagian orang yang hanya memikirkan urusan dunia semata. Hidupnya seolah hanya diisi dengan rutinitas yang berulang: kerja – makan – kerja – makan – lalu mati. Pola hidup semacam ini disindir oleh Allah dalam Al-Qur’an, karena manusia yang diciptakan dengan akal seharusnya bisa mengambil pelajaran dari makhluk kecil di sekitarnya, bahkan dari seekor nyamuk.
Nyamuk: Makhluk Kecil dengan Kehidupan yang Sederhana
Jika kita perhatikan, nyamuk hidupnya hanya berkisar pada:
-
Menghisap darah (sedot, sedot, sedot).
-
Setelah kenyang, nyamuk berkembang biak, bertelur.
-
Kemudian mati.
Tidak ada yang istimewa, tidak ada peninggalan berarti. Demikianlah Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Maka orang-orang yang beriman yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir berkata: ‘Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?’ Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan itu pula banyak orang yang diberi petunjuk-Nya. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”
(QS. Al-Baqarah: 26)
Artinya, Allah ingin mengingatkan bahwa kehidupan dunia yang hanya berputar pada makan, bekerja, dan mencari kesenangan semata sangat kecil dan hina di sisi-Nya, tak ubahnya seperti kehidupan seekor nyamuk.
Dunia: Tak Lebih dari Sayap Nyamuk
Nabi Muhammad ﷺ pun menegaskan betapa rendahnya dunia dibandingkan akhirat. Beliau bersabda:
“Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah walau sebesar sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberikan seteguk air pun kepada orang kafir.”
(HR. Tirmidzi, no. 2320)
Hadis ini menunjukkan bahwa dunia tidak ada nilainya di sisi Allah. Semua harta, jabatan, dan kesenangan dunia hanyalah sementara. Sangat disayangkan jika ada orang yang rela berbuat zalim, bahkan sampai korupsi, demi sesuatu yang akan segera ditinggalkan.
Lupa Akan Kematian
Yang lebih tragis, orang yang rakus terhadap dunia sebenarnya tahu bahwa ia akan wafat, tetapi tidak tahu kapan kematian itu datang. Bayangkan jika saat seseorang sedang berbuat maksiat, tiba-tiba ajal menjemputnya. Betapa meruginya ia, karena dunia yang dikejarnya habis begitu saja, sementara dosa yang dibawa ke akhirat kekal menemaninya.
Para ulama sering mengingatkan:
“Ketika engkau hendak berbuat maksiat, ingatlah bahwa bisa jadi ajalmu datang saat itu juga.”
Kesimpulan
Perumpamaan nyamuk mengajarkan kita bahwa kehidupan duniawi yang hanya berputar pada makan, kerja, dan kesenangan sesaat sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Seharusnya manusia menggunakan kehidupannya untuk beribadah, beramal saleh, dan mempersiapkan bekal akhirat.
Hidup bukan sekadar mengulang rutinitas, melainkan sebuah perjalanan singkat menuju pertemuan dengan Allah. Dunia hanyalah wasilah, bukan tujuan.
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi; dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Qashash: 77)